Katamu,
aku masih kotor.
Tak pernah kauucapkan,
namun aku mengerti.
Kau menghentakku,
"Kamu harus mandiri."
Lalu suatu hari,
kau ingin pergi,
membawa lidi-lidi
yang dahulu
pernah menggenggamku.
Lidi yang sama
yang pernah
menyapuku.
Kotoran ini
sempat iri.
Mengapa bukan aku
yang tetap kau genggam?
Mengapa harus
mencari genggaman lain?
Namun
pada detik
yang paling sunyi,
kotoran akhirnya sadar,
ia hanyalah kotoran.
Tak pantas digenggam.
Hanya pantas disapu,
hingga benar-benar bersih.
